batik urban

April 13, 2010 at 5:56 am (Uncategorized)


BATIK kini tak lagi identik dengan kuno,tetapi chicdan kontemporer. Hal tersebut diperlihatkan maestro batik Iwan Tirta dalam koleksi terbarunya,After Hour.

Modernisasi batik, baik dari segi ragam hias maupun cutting,sukses membuat batik semakin akrab sebagai busana masyarakat urban.Malah,batik menjadi pilihan banyak orang untuk tampil apik di berbagai kesempatan yang sekaligus menunjukkan kepeduliannya akan budaya Tanah Air. Imej batik sebagai busana kuno yang hanya dipakai para orangtua pun luntur sudah.Kini kaum muda pun tak lagi malu menggunakan batik. Hal tersebut tentu tidak terlepas dari peran para pelaku mode yang terus berinovasi menghadirkan beragam gaya baru dari batik. Salah satunya,sang maestro batik, Iwan Tirta. Melalui lini terbarunya, After Hour,Iwan Tirta bahkan mengangkat batik satu level lebih tinggi dalam khasanah mode.

Bukan hanya etnik dan sophisticated, melainkan juga kental dengan gaya kini yang dikemas dalam look internasional. Berbeda dengan kain batik yang memiliki nilai koleksi dan kemudian akan disimpan dengan hati-hati, koleksi After Hour Iwan Tirta ini justru memiliki daya tarik kuat bagi konsumen untuk mengenakannya. Bagaimana tidak, bila Iwan Tirta menyuntikkan porsi yang tepat dalam hal elegansi,citra modern, sekaligus pesona etnik. Plus,koleksi terbaru yang dipertunjukkannya di Plaza Indonesia Fashion Week itu memang sengaja ditujukan bagi para metropolis, terutama kaum wanita urban. Dalam keterangan persnya, Iwan menyebutkan bahwa After Hour bercerita tentang kehidupan kaum urban Jakarta.

Koleksi busana yang akan digunakan para metropolis untuk menghadiri pesta cocktail,acara minum teh di sore hari, mengobrol ditemani segelas hingga dua gelas wine setelah beraktivitas di kantor,dan bahkan undangan ke sebuah gala dinner pada Jumat malam. Lebih dari 30 set,rangkaian koleksi After Hour tersebut memang dipersembahkan bagi para urbanista. Tanpa menghilangkan nuansa tradisional pada motif batik sebagai ciri khasnya, Iwan Tirta menampilkan After Hour sebagai teman acara cocktail, high tea, bahkan gala dinner yang tradisional dalam napas yang chic dan modern, serta unik karena setiap koleksinya menampilkan motif batik yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Tidak hanya itu,memperkuat citra urban yang dinamis, praktis, serta minimalis, Iwan tidak lagi menggunakan payet, manik,dan bebatuan untuk menonjolkan koleksinya; hanya renda atau trimming yang digunakan sebagai aksen cantik. Begitu juga dengan keseluruhan batik yang menggunakan bahan 100% katun murni sebagai medianya yang dipadukan dengan sifon, shantung, taffeta, atau voile polos, yang sekaligus menjauhkan After Hour dari kesan monoton. ”Batik adalah salah satu warisan budaya Indonesia yang patut dilestarikan. Melalui After Hour, masyarakat urban yang semakin banyak terpapar gaya fashion Barat bisa mempertahankan identitas diri sekaligus mengapresiasi warisan budaya Tanah Air,” papar Iwan Tirta.

Koleksi After Hour yang dipersembahkan Iwan Tirta bukan hanya meliputi cocktail dress semata, melainkan juga sebuah seri busana padu padan, seperti halnya trench coat dengan aksen lengan puff yang bisa dikombinasikan dengan rok midi, atau bolero cantik yang bisa menjadi pengganti blazer. Iwan juga menghadirkan rok-rok apik dalam motif batik kontemporer yang bisa dipadankan bersama kemeja dan blus.Tidak ketinggalan gaun-gaun cantik dengan siluet pas badan, tentu dengan motif batik apik khas sang maestro. Tidak hanya untuk wanita, Iwan Tirta juga memanjakan pria melalui After Hour.

Tanpa perlu inovasi model khusus untuk koleksi pakaian pria, kemeja batik tersebut dimasukkan ke dalam celana panjang hitam dan putih sebagaimana sang empunya desain mengenakan koleksi kemeja batik hasil karyanya sendiri. Sekilas terlihat sederhana, tapi justru Iwan menggunakan ragam hias nan apik dalam napas kontemporer yang menjadikan kemeja batiknya cocok dikenakan kaum pria urban. Sebut saja motif Sawunggaling, yang dikatakan Iwan memiliki arti sebagai burung atau ayam jago kesayangan raja yang melambangkan keindahan dan kekuatan budaya Jawa serta pembawa keberuntungan. Untuk kaum wanita, motif Megamendung (awan mendung) merefleksikan pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan yang dilambangkan awan mendung pembawa hujan.

Namun tidak seperti motif Megamendung biasa; di tangan Iwan Tirta,Megamendung tidak tampil dalam nuansa biru dan merah, tetapi dalam warna putih dan hitam serta nuansa fuschia. Tidak ketinggalan motif yang dikenal sebagai motif batik tertua, yaitu Kawung dan Parang sebagai perlambang kekuasaan, kewibawaan, dan kebesaran sebuah kepemimpinan. Selain motif-motif tersebut, ada pula motif Buketan atau artinya adalah rangkaian bunga sebagai perlambang keindahan atau kecantikan seorang wanita yang asalnya diadaptasi dari budaya Eropa.(lesthia kertopati)

* Group Links :
* RCTI
* TPI
* Global TV
* Trust
* MNC
* okezone.com

Copyright © 2010 Media Nusantara Citra Group
Tampilan terbaik pada resolusi 1024×768 pada browser FF1+, IE6+, Opr9+

* Legal Disclaimer
* Privacy Policy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: